Wednesday, July 31, 2013

TRANSPORTASI 

DEFINISI

Transportasi :
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah alat yang bisa degerakkkan oleh manusia maupun mesin. Tujuan dari penggunaan transportasi ini adalah untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Di negara-negara maju sistem transportasi yang digunakan adalah alat trasportasi publik. Alat transportasi ini bisa taksi, bus, kereta baik yang ada di permukaan maupun sistem kerta api bawah tanah. Jarang orang-orang di negara maju mempunyai atau menggunakan kendaraan pribadi.
Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya. Sekarang juga telah dikembangkan untuk membuat transportasi darat lebih cepat. Teknologi telah dikembangkan untuk menambah kecepatan kereta, sperti yang telah dilakukan Jepang dengan bullet trainnya.

MASALAH DALAM TRANSPORTASI

Sistem transportasi merupakan bagian penting dari suatu kota. Kota yang berkembang akan sangat membutuhkan akses transportasi. Jika tidak dilakukan pengelolaan yang baik dan serius, maka masalah-masalah yang timbul dari transportasi ini akan sangat menguras energi dan biaya. Masalah dalam transportasi biasanya cukup pelik dan rumit dan solusi dari permasalahan transportasi pun spesifik tergantung kondisi perkotaan itu sendiri.

KEMACETAN

Macet dan kesemrawutan lalu lintas adalah masalah utama dari transportasi dimana volume kendaraan tidak sebanding dengan jalan sebagai prasarana transportasi darat. Dan macet mempunyai banyak dampak ke sektor yang lain. Macet tidak hanya disebabkan oleh perbandingan jumlah kendaraan dan jalan yang tidak sebanding, tetapi juga aktivitas yang mengganggu penggunaan jalan bisa menjadi pemicu kemacetan. Seperti pedagang kaki lima yang menggunakan trotoar, parkir kendaraan yang menggunakan bahu jalan, pasar yang meluber sampai ke jalan dan sebagainya dan juga masalah-masalah lain yang bisa memicu kemacetan.

Kemacetan bisa terjadi dikarenakan hal-hal sebagai berikut:

(1) Volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan
Jalan dibedakan berdasarkan kelasnya. Hal ini mempengaruhi jumlah dan jenis kendaraan yang melewati jalan tersebut. Jika jumlah kendaraan (arus kendaraan) yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan, maka akan menimbulkan kemacetan. Jika hal ini terjadi di berbagai tempat maka akan terjadi kemacetan massal yang akan susah mencari solusi kemcaetan tersebut.

(2) Terjadinya kecelakaan lalu lintas
Kecelakaan yang terjadi di jalan menyebabkan tersendatnya laju kendaraan. Disamping letak kendaraan yang berada di jalur lalu lintas yang belum disingkirkan, keinginan masyarakat sekitar untuk menonton dan mengupayakan pertolongan pertama pada korban kecelakaan akan membuat terganggunya kelancaran arus lalu lintas. Hal ini mengakibatkan terjadinya kemacetan.

(3) Terjadinya banjir
Banjir yang menggenangi jalur lalu lintas membuat pengendara jalan memelankan laju kendaraannya. Hal ini menyebabkan arus kendaraan menjadi lambat. Perlambatan kendaraan ini mengakibatkan kemacetan

(4) Perbaikan jalan dan penggalian kebel/pipa air/saluran air di pinggir jalan.
Perbaikan jalan tentu saja akan menggunakan jalur jalan itu sendiri. Tentunya pengendara kendaraan akan memelankan laju kendaraannya di sekitar tempat perbaikan jalan atau penggalian di pinggir jalan. Hal ini akan mengakibatkan kurang lancarnya arus kendaraan dan terjadilah kemacetan.

(5) Adanya kepanikan karena tanda bahaya
Ketika bunyi tanda bahaya seperti isyarat sirine tsunami dibunyikan, maka akan timbul kepanikan pada masyarakat. Penduduk akan segera pergi dari lokasi yang mungkin terkena tsunami. Hal ini mengakibatnya semua penduduk menggunakan jalan untuk pergi dari lokasi. Kepanikan yang tiba-tiba menyebabkan jalan terisi secara mendadak dan pengguna jalan ingin saling mendahului. Hal ini mengakibatkan kemacetan yang luar biasa.

KECELAKAAN LALU LINTAS

Masalah lain dari sistem transportasi adalah kecelakaan lalu lintas. Pengguna transportasi adalah manusia yang mana interaksi antar pengguna ini akan mengakibatkan gesekan-gesekan yang pada akhirnya akan meneyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan lalu lintas:

(1) Faktor Manusia
Faktor manusia adalah faktor yang paling mendominasi dalam kecelakaan lalu linstas. Hampir semua kejadian kecelakaan lalu lintas didahului dengan pelanggaran rambu-rambu lalu lintas misalnya dengan melakukan pelangaran terhadap lampu lalu lintas, markah jalan dan rambu-rambu lainnya. Pelanggaran rambu ini dapat terjadi bisa karena disengaja, ketidaktahuan terhadap arti rambu-rambu tersebut dan aturan-aturan yang diberlakukan atau bisa juga pura-pura tidak tahu terhadap rambu-rambu dan peraturan lalu lintas yang diberlakukan.
Selain pelanggaran rambu-rambu dan aturan, seringkali manusia sendiri sebagai pengguna jalan raya seringkali lalai dan berperilaku tidak semestinya. Seperti ugal-ugalan dalam mengendarai kendaraan, mengantuk, mabuk, dan juga karena harga diri karena terpancing oleh pengguna jalan lainnya untuk menajak balapan di jalan raya.

(2) Faktor Kendaraan
Faktor kendaraan juga berpengaruh besar terhadap terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan. Pengguna kendaraan perlu memeriksa kendaraannya sebelum mengendarai kendaraannya. Masalah kendaraan yang sering mengakibatkan kecelakaan lalu lintas diantaranya adalah ban pecah, rem yang tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kelelahan logam yang mengakibatkan bagian kendaraan patah, peralatan yang sudah aus tidak diganti dan berbagai penyebab lainnya. Masalah ini sangat terkait dengan teknologi yang digunakan dan yang paling penting adalah perawatan terhadap kendaraan.

(3) Faktor Jalan
Faktor jalan ini sangat terkait dengan bentuk jalan, ada tidaknya pagar pengaman jalan, ada tidaknya median jalan, dan kualitas jalan. Jalan yang rusak/berlobang bisa membahayakan pengguna jalan.

(4) Faktor Cuaca
Faktor cuaca yang mendung, hujan dan berkabut juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak pandang juga terpengaruh karena kaca yang kurang jelas dan tidak bisa bekerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa mengganggu jarak pandang, terutama di daerah pegunungan.

POLUSI UDARA

Polusi udara juga merupakan masalah yang timbul akibat transportasi. Volume kendaraan yang banyak dan macet mengakibatkan kendaraan membuang polusi lebih besar daripada jika tidak sedang dalam keadaan macet. Polusi udara dari sektor transportasi ini umumnya terpusat pada perkotaan dan disebabkan oleh lalu lintas di perkotaan.

PEMECAHAN MASALAH DALAM TRANSPORTASI

MASALAH KEMACETAN

Tidak ada solusi yang pas terhadap masalah kemacetan karena kompleksitas permasalahan yang ada. Solusi yang ada biasanya spesifik diterapkan hanya pada daerah tertentu saja. Namun secara umum solusi kemacetan adalah sebagai berikut :

(1) Peningkatan Kapasitas Jalan
Salah satu cara mengatasi kemacetan adalah dengan menambah kapasitas jalan. Baik secara fisik maupun sistem. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
- Memperlebar jalan dan menambah ruas jalan.
- Mengubah sirkulasi arus lalu lintas menjadi satu arah.
- Mengurangi konflik di persimpangan dengan membatasi arus belok kanan atau dengan menggunakan lampu lalu lintas.

(2) Keberpihakan pada transportasi publik
Transportasi publik merupakan solusi yang lebih memungkinkan untuk mengatasi kemacetan. Diantaranya adalah dengan melakukan:
- Pengembangan jaringan pelayanan umum.
- Pengambangan jalur khusus kendaraan publik, seperti busway.
- Pengembangan kereta api kota seperti subway.
- Melakukan subsidi langsung untuk mengadakan transportasi publik, seperti pada busway di Jakarta.

MASALAH KECELAKAAN LALU LINTAS

Kecelakaan lalu lintas akan selalu ada, namun bisa dikurangi atau dihindari, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

(1) Melaukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan para stakeholder seperti Dinas Perhubungan, Pihak Kepolisian dan Masyarakat.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan oleh semua pihak ini akan lebih efektif karena bukan datang dari pemerintah saja tetapi juga penegak hukum dan masyarakat. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah:
- Memasang rambu lalu lintas –rambu peringatan, larangan, perintah dan petunjuk- pada semua tempat yang membutuhkan dengan warna yang jelas dan terang serta mudah dimengerti.
- Mengatur, mengawasi dan menertibkan alur lalu lintas dan angkutan.
- Melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap kelayakan angkutan lalu lintas dengan memperhatikan kelengkapan dan umur kendaraan.
- Sementara pihak kepolisian mengingkatkan disiplin pemakain jalan dengan cara memperketat pengawasan bagi pelanggar.

(2) Membuat pengaturan jalan yang lebih manusiawi dan aman, Langkah ini bisa ditempuh sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomer 14 Tahun 2006 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas di Jalan.

(3) Pembenahan dan pemeliharaan jalan yang rawan kecelakaan.

(4) Kegiatan yang bertujuan untuk memajukan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai lalu lintas.

 (5) Kegiatan ini memberikan pembelajaran kepada masyarakat untuk berperilaku aman di jalan dalam bentuk kampanye. Pelaksanaan kampanye dilakukan secara lebih berkesinambungan dengan mengangkat tema-tema yang variatif, atraktif dan komunikatif agar menggugah perhatian para pengguna jalan raya. Diantaranya dalah kampanye safety riding dan responsible riding bagi para pengguna jalan raya yang marak dilakukan di Kota Surabaya.

TRANSPORTASI DALAM PENATAAN RUANG

Penataan Ruang merupakan suatu kegiatan yang terdiri dari proses perencanaan Tata Ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pengertian ruang di sini adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang udara sebagaimana dalam UU penataan ruang No. 26/2007. Bidang transportasi secara implisit termuat dalam pasal 20 s/d 28. point 1.b. Dalam RTRWN No. 26/2008, transportasi terdapat dalam Sistem Jaringan Transportasi Nasional yaitu pada pasal 17 s/d 37, meliputi sistem jaringan transportasi laut, darat dan udara. Sedangkan sistem jaringan transportasi pipa terdapat pada pasal 38, 39, 42 dan pasal 43 (1).
Peran kompetensi profesi bidang transportasi dalam RTRWN merupakan bagian dari perwujudan struktur Ruang Wilayah Nasional, Propinsi, Kabupaten dan Kota. Sistem jaringan transportasi terstruktur menurut hirarki fungsional dan menurut moda transportasi yang terdiri dari jaringan prasarana ruang lalu lintas dan simpul serta jaringan pelayanan transportasi. (Peran Profesi Transportasi Dalam Penataan Ruang, Oleh: M.Y.Jinca, Kepala Bidang Pembinaan Profesi, Masyarakat Transportasi Indonesia, disampaikan dalam buletin penataan ruang.

SISTEM INFORMASI HARUS TERINTEGRASI DENGAN PENATAAN RUANG 

Penataan Ruang dan sistem transportasi memiliki integritas (keterkaitan-red) yang erat dalam pembentukan ruang. Upaya penyediaan sarana transportasi untuk perkembangan wilayah semestinya mengacu pada Rencana Tata Ruang. Seiring perkembangan sebuah wilayah baik secara ekonomi maupun demografis, maka aktivitas transportasi juga semakin meningkat. Jika hal tersebut tidak diantisipasi maka akan timbul permasalahan di bidang transportasi, khususnya kemacetan yang saat ini sering terjadi di kota-kota besar Indonesia.

Persoalan kemacetan merupakan masalah krusial transportasi yang sangat terkait dengan penataan ruang. Pertumbuhan wilayah yang menyimpang dari rencana tata ruang (beralih fungsinya suatu kawasan yang tidak sesuai dengan peruntukan), dari fungsi permukiman menjadi kawasan komersial akan menimbulkan dampak, salah satunya kemacetan. Agar lalu lintas di kawasan komersial tersebut dapat berjalan lancar, selain adanya jalan yang lebih luas dan penyediaan lahan untuk parkir, maka perlu tersedianya Mass Rapid Transit (Sistem Angkutan Massal-red).
Penyelenggaraan MRT di kota-kota besar wajib untuk dilaksanakan. Ditargetkan penyelesaian kegiatan tersebut akan terlaksana pada tahun 2016. Kendala yang umumnya dihadapi dalam penyelenggaraan MRT adalah tidak adanya budaya planning, biaya yang mahal, dan perlu konsistensi antar pemangku kepentingan terkait. Selain itu upaya public hearing (paparan kepada masyarakat-red) tentang Undang-undang Penataan Ruang harus terus dilakukan, agar masukan masyarakat terhadap perbaikan sarana transportasi dapat terfasilitasi.
Ada empat alternatif pilihan dalam pemecahan masalahan transportasi, yaitu:
1) penyediaan angkutan umum yang murah dan nyaman;
2) desentralisasi strategi berupa pemecahan konsentrasi kegiatan dari pusat kota ke wilayah pinggiran merupakan upaya pemerataan;

3) peralihan dari angkutan pribadi menuju angkutan massal, dan

4) pembatasan lalu lintas.
Upaya untuk mewujudkan kota yang nyaman dan aman ke depan, dapat dilaksanakan development impact fee (keterkaitan antara tata ruang dengan transportasi), dimana pelaku yang ingin membangun kegiatan komersial dapat dikenakan retribusi lebih besar.

TRANSPORTASI JABODETABEK

Transportasi di kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek), terkhusus kemacetannya, telah menjadi problem pelik, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah mencoba mengatasinya melalui perbaikan pengelolaan mobilitas di kawasan tersebut. Sasaran utama perbaikan adalah penataan sistem angkutan umum dan pengaturan penggunaan kendaraan pribadi. Keduanya kini tengah dilakukan secara terpadu dengan sekuen sesuai urutan prioritas dan tahapannya.
Selanjutnya, sasaran utama perbaikan itu dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama penanganan transportasi di Jabodetabek, yaitu perbaikan:
(1) sarana dan prasarana transportasi,
(2) penataan ruang, 
(3) regulasi dan tata-kelola, serta 
(4) transportasi publik.

Dari empat kelompok utama penanganan tersebut kemudian dirinci menjadi 20 langkah penanganan yang dijabarkan dalam 83 renaksi. Penanganannya tentu membutuhkan koordinasi lintaspemangku kepentingan: K/L, Pemda terkait (pemerintah provinsi/kota, Polda Metro Jaya, Dishub, Dispenda, Satpol PP), dan tentunya sejumlah elemen masyarakat.
Pada September 2010, Wakil Presiden Boediono menginstruksikan “17 Langkah Atasi Kemacetan Jakarta”. UKP4 ditunjuk sebagai koordinator dalam mengawasi pengimplementasiannya. Ke-17 instruksi Wakil Presiden itu adalah:

1) Berlakukan electronic road pricing, yakni penggunaan jalan dengan sistem berbayar.

2) Sterilkan jalur busway. Terdapat empat koridor bus Transjakarta sebagai empat koridor utama dalam proyek sterilisasi. Dalam hal ini, sterilisasi adalah menertibkan jalur busway dari pengendara sepeda motor dan mobil yang memaksa masuk ke jalur busway.

3) Kaji parkir on-street disertai penegakan hukum. Melalui renaksi ini, warga diharapkan mulai tertib dan tidak memarkir kendaraan bermotornya di pinggir jalan, karena acap menjadi kontributor utama dari kemacetan.

4) Perbaiki sarana-prasarana jalan. Agenda ini akan dilaksanakan melalui penerbitan peraturan pelaksanaan kontrak tahun jamak berbasis kinerja, pembuatan dan perbaikan marka jalan, penyediaan ruang pedestrian, serta pengaturan arah jalan, rambu, dan lampu lalu-lintas.

5) Tambah jalur busway hingga mencapai 12 koridor.

6) Untuk angkutan transportasi, siapkan harga bahan bakar gas (BBG) khusus. Hal ini mendapatkan sorotan, mengingat, memang sudah seyogianya pemerintah menyuntikkan insentif terhadap angkutan umum agar beralih menggunakan BBG serta menambah titik-titik pengisian BBG.

7) Tertibkan angkutan umum liar, terutama bis kecil yang tak efisien. Instansi terkait harus mampu mendorong bus kecil beralih menggunakan armada bus yang lebih besar. Oleh karena itu, pemberian insentif bagi peremajaan transportasi umum perlu dikaji lebih-lanjut.

8) Optimalkan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek dengan re-routing, yakni hanya akan single operation.

9) Tertibkan angkutan liar sekaligus tempat perhentiannya.

10) Bangun layanan mass rapid transit (MRT) jalur Lebak Bulus-Bundaran HI yang masa konstruksinya ditargetkan untuk dimulai pada 2011.

11) Bentuk Otoritas Transportasi Jakarta (OTJ). Gubernur DKI Jakarta akan memainkan peran selaku koordinator antarinstansi terkait.

12) Tambah jalan tol—rencananya akan dibangun enam ruas jalan tambahan.

13) Batasi kendaraan bermotor, mengingat, terutama di Jakarta, setiap tahunnya konsumsi dan angka penjualan kendaraan bermotor relatif tinggi. Dampaknya, itu menjadi sumber masalah baru, mulai dari kemacetan hingga polusi.

14) Siapkan lahan park and ride untuk mengurangi kendaraan serta untuk mendukung penggunaan KRL sebagai insentif yang sepadan untuk menarik lebih banyak masyarakat menggunakan KRL sebagai moda transportasi.

15) Bangun double-double track KRL Jabodetabek ruas Manggarai-Cikarang.

16) Percepat pembangunan lingkar-dalam KRL yang diintegrasikan dengan sistem MRT.

17) Percepat pembangunan KA bandara.

Dari serangkaian FGD dan workshop tersebut lantas terangkat poin-poin penting terkait pengelolaan mobilitas di Jabodetabek, antara lain:
1) Sasaran utama perbaikan pengelolaan mobilitas di Jabodetabek adalah: penataan sistem angkutan umum dan pengaturan penggunaan kendaraan pribadi. Kedua hal ini harus dilakukan secara terpadu dengan sekuen sesuai urutan prioritas dan tahapannya.

2) Sasaran utama tersebut dikelompokkan dalam 4 kelompok utama penanganan, yakni mencakup perbaikan:
  1. sarana dan prasarana transportasi;
  2. penataan ruang;
  3. transportasi publik;
  4. regulasi dan governance;
3) 17 langkah, setelah melalui proses penajaman, akhirnya menjadi 20 langkah dan distrukturkan dalam empat kelompok utama penanganan. Beberapa langkah ini dimodelkan dalam dua Koridor Showcase penanganan kemacetan Jabodetabek.

Ke duapuluh langkah itu kemudian direkapitulasikan renaksinya berdasarkan 4 kelompok utama, sebagai berikut :
1. Sarana dan Prasarana Transportasi
L1 : Memberlakukan Electronic Road Procing
L2 : Mengkaji kebijakan perparkiran on-street dan penegakan hukum
L3 : perbaikan sarana-prasarana jalan
L4 : Jalan tol tamabahan
L5 : Menyusun kebijakan pembatasan kendaraan bermotor

2. Penataan Ruang
L6 : Penyiapan lahan park and ride untuk mendukung KRL
L7 : Meningkatkan kualitas, merevitalisasi dan memperluas pedestrian way (trotoar kota)

3. Transportasi Publik
L8 : Sterilisasi jalur busway (Bus Rapid Transit)terutama di 4 jalur utama 
L9 : Penambahan 2 jalur busway pada akhir 2010
L10: harga gas khusus transportasi L11: Restrukturisasi angkutan bis kecil yang tak efisien
L12: Mengoptimalkan KRL Jabodetabek dengan re-routing
L13: Penertiban angkutan liar dan tempat perhentian angkutan liar
L14: Mempercepat pembangunan MRT
L15: Proyek double-double track KRL Jabodetabek ruas Manggarai-Cikarang
L16: Mempercepat pembangunan lingkar-dalam KRL yang diintegrasikan dengan sistem angkutan massal
L17: Percepatan pembangunan KA Bandara

4. Regulasi dan Pemerintahan
L18: pembentukan otoritas transportasi Jabodetabek
L19: Revisi Rencana Induk Transportasi Terpadu 
L20: pendidikan masyarakat tentang kemacetan dan disiplin berlalu lintas

No comments:

Post a Comment

Post a Comment